Wednesday, 29 January 2014

Bayi Sehat Keuangan Selamat

Tahukah anda tentang manfaat beras merah organix, khususnya untuk bayi? Hmmm...ya sudah, kalau nggak tahu tidak usah mengkerut begitu keningnya, woles aja. Kita akan bahas kok sebentar lagi. Tapi...ada cerita dulu nih, tahu kan dayang sumbi ibunda sangkuriang? Ah masa nggak tahu sih, itu cerita kuno yang melegenda. Nah, jaman dulu kan belum ada penggilingan, jadi kalau habis panen itu gabah nya ditumbuk, baru jadi beras.

Kisah tangkuban perahu itu kan cuma khayalan, yang benar ternyata waktu si sangkuriang nya bikin perahu, mbok dayang sumbi sibuk numbuk gabah. Setelah perahunya selesai, sangkuriang langsung mencari ikan disungai, Mereka memutuskan untuk bakar-bakar ikan, sementara itu gabah yang ditumbuk sudah menjadi beras. Setelah menyiapkan bahan masakan, jam 4 pagi mereka sibuk mencari kayu bakar. Kebetulan karena masih gelap susah sekali mencari kayu bakar. Akhirnya perahu yang baru saja dibikin, dengan terpaksa dijadikan kayu bakar! Hadeeuh...cerita apaan itu! Wkwkwkwkwk (jangan dipercaya, cuma ngarang. Hahaha!)

Oke oke anda pasti sudah nggak sabar dengan materi tentang beras organix ini. Beras organix adalah beras yang dihasilkan dari proses penanaman secara organix. Menggunakan pupuk organix, di lingkungan pesawahan yang tidak terkontaminasi oleh pupuk kimia atau pestisida. Artinya beras organix adalah beras yang betul-betul terjamin sehatnya, terjamin mutunya. Oleh karena beras organix ini terbebas dari beragam pupuk kimia, maka dengan serta merta terbebaslah dari beragam kemungkinan bibit penyakit yang datang dari bahan kimia tersebut. Sekedar gambaran, lihatlah para sesepuh (maksudnya kakek nenek) hehehe. Mereka itu berumur panjang dan penyakitnya ringan-ringan karena jaman dulu obat kimia belum selumrah sekarang.

Nah, lalu apa sih sebenarnya manfaat beras merah organix yang bisa kita dapat, terutama untuk si kecil? Beras merah organix kaya akan serat, sehingga efektif mencegah sembelit. Kandungan asam amino, mineralnya membantu perkembangan otak anak Tinggi zat besi (fe) yang membantu mencukupi asupan zat besi bayi agar terhindar dari anemia. Beras merah organix juga tinggi kandungan vitamin b1 (tiamin) yang diperlukan untuk mencegah beri-beri pada anak. Beras merah organix sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak-anak penderita autis karena banyak mengandung vitamin dan mineral, pun bebas dari polusi dan pestisida. Namun saran kami, sebelum dikasih ke anak anda, masaklah terlebih dahulu. Hehehe!

Mengingat begitu banyaknya manfaat dari beras merah organix ini, maka bisa dikatakan hal ini juga sebagai pencegahan atas berbagai macam penyakit. Coba anda bayangkan, kalau si kecil sudah sakit-sakitan, berapa biaya yang mesti dikeluarkan setiap ke dokter? Belum lagi beban pikiran yang menggelayuti benak anda. Sedia payung sebelum hujan, lebih baik pencegahan daripada pengobatan. Bukankah kalau bayi anda sehat, keuangan anda selamat?

Terima kasih kepada bu. Bidan Erista Silvani,Amd.Keb yang sudah repot-repot menyiapkan materi untuk artikel saya kali ini. Sukses dengan bisnis bubur bayi organixnya yaaah :)

Sekian dulu, semoga bermanfaat. Mari saling mengingatkan, jika tidak keberatan silakan share tulisan ini. Sekecil apapun upaya anda, pasti akan membantu sesama. Dan itu adalah pahala yang tiada tara. Terima kasih.

Wednesday, 22 January 2014

Asah Otak Kanan si Buah Hati Biar Sukses

Selamat sore buat anda pemirsa setia blog sepsum. Kali ini saya ingin membahas peran Otak Kanan untuk ke-Suksesan si Buah Hati.



Suatu hari seorang dokter spesialis asal Amerika mengadakan penelitian. Objek yang dipilih si dokter adalah otak manusia. Datanglah si dokter ke suatu tempat 'pelelangan otak' yang tidak jauh dari laboratorium miliknya.

Setelah memilih & memilah, dari sekian ratus otak yang tersedia, dia menemukan otak yang masih baru tapi murah, dia nanya, "yang ini masih baru yah? Kok murah?", si penjual menjawab "Ooooh itu otaknya orang indonesia. Jarang dipakai makanya keliatan baru!" Hehehehe.

Jujur saja akhir-akhir ini saya memang sedang asyik mengorek-ngorek informasi tentang otak, lebih tepatnya otak kanan. Begitu menariknya bahasan tentang otak kanan ini sampai-sampai saya menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam sehari demi kepuasan.

Bukan sembarang kepuasan lho, ini kepuasan batin yang bermanfaat. Dimana saya nantinya bisa lebih mengassah otak kanan ini. Lha, kok cuma otak kanan, yang kiri begimana?

Memang, baik itu otak kiri maupun kanan keduanya sama-sama penting. Tapi ada baiknya kita lebih mengasah otak kanan karena ianya sangat menentukan keberhasilan seseorang.

Sudah bukan rahasia lagi kalau Emotional Quotient + Spiritual Quotient (baca : Otak Kanan) itu menentukan 80% kesuksesan seseorang dibanding Intelligence Quotient (baca : Otak Kiri). Hal itu disampaikan oleh pak Ary Ginanjar dalam bukunya The ESQ Way 165.

Kecerdasan Emosi atau EQ seperti yang kita tahu adalah sesuatu yang berkaitan dengan sikap atau attitude, Kecerdasan Spiritual atau SQ adalah hubungan manusia dengan Tuhannya, sedangkan Kecerdasan Intelektual atau IQ lebih pada sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan.

Secara sederhana, perbedaan yang mencolok antara keduanya adalah dimana yang satu pada logika (otak kiri) dan yang satunya lagi kreatifitas (otak kanan). Kalau lah logika ini terbatas pada hal-hal yang hanya realistis & masuk akal, maka kreatifitas berawal dari imajinasi yang tanpa batas.

Maka tak heran banyak tercipta orang hebat, termasuk para penemu adalah mereka yang dominan otak kanan. Coba anda bayangkan, apakah bisa seseorang menciptakan sebuah benda (yang belum ada) tanpa daya imajinasi dan kreatifitas yang kuat? Tanpa membayangkan bentuk, mekanisme, fungsi, dll terlebih dahulu?

Hal mencolok lainnya yang menjadi perbedaan adalah soal keteraturan. Dimana seorang yang dominan otak kiri akan selalu teratur, atau cenderung mematuhi aturan da urut. Sedangkan mereka yang dominan otak kanan yah sebaliknya, tidak teratur, paralel, menyelesaikan beberapa masalah sekaligus.

Seringkali dalam hal pekerjaan, si golongan kanan merangkap beberapa pekerjaan sekaligus. Atau, menangani beberapa proyek sekaligus, atau memiliki banyak bisnis diberbagai bidang usaha. Repot kah? Hmm kelihatannya mereka enjoy-enjoy saja.

Nah, bagaimana biar si kecil otak kanan-nya terasah?

Otak kanan ini kan berkaitan sengan kreatifitas, musik, warna. Nah, salah satu cara yang bisa anda terapkan adalah mulai memfokuskan anak pada minat yang dimilikinya. Bukan memaksanya untuk masuk pada apa yang kita inginkan.

Kalau si anak suka menggambar, biarkan dia be-rkreasi dengan imajinasinya. Begitupun dengan kreatifitas-kreatifitas lainnya, seperti game. Informasi nya ada disini [klik]. Itu baik untuk perkembangan otak kanan mereka.

Beberapa permainan yang juga bisa melatih otak kanan :

  • catur
  • sudoku
  • teka teki
  • puzzle
  • rubik cube
  • game strategi
  • dll
Nah, sudah tahu kan? Boleh salah satu yang paling diminati si kecil, atau mau semuanya juga bagus kok.

Tak terasa, sudah panjang lebar saya bicara. Hehehe tapi mudah-mudahan bermanfaat ya wassalam :)

Sunday, 19 January 2014

Terima Kasih Bencana!

Kita sudah sama-sama ngeh kalau saat ini berita bencana menjadi santapan sehari-hari. Bahkan sebagian dari anda mungkin sedang berjuang untuk selamat dari bencana, semoga ada hikmah besar dibalik semuanya. Aamiiiin

Anyway, kalau ngomongin masalah bencana rasa-rasanya bolehlah saya mengutip pernyataan kitab suci Al-quran, dimana bencana itu disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Amatlah naif kalau kita tidak mengakui hal ini. Kalau bicara soal banjir, lihatlah masyarakat yang buang sampah seenaknya! Kalau ngomongin longsor, lihatlah masyarakat yang membabat hutan seenaknya! Lah, kalau tsunami? Itu juga. Masih ingat kisah kaum nabi Nuh A.S? Zaman nabi Nuh, masyarakat yang membangkang dimusnahkan dengan air bah. Mirip-mirip tsunami di masa sekarang, karena itu kita harus banyak-banyak introspeksi.

Hikmah dibalik sebuah bencana, mohon garis bawahi kata ini yah! Hikmah tak ubahnya seperti pelangi setelah mendung dan turun hujan. Yupz, setelah kesulitan selalu ada kemudahan, keindahan, dan kebahagiaan. Memang begitulah hukum yang ditetapkan Tuhan, sabar & syukur itu memang seperti sebuah rakit yang mengantarkan kita ke sebrang sungai (baca : dari musibah ke hikmah). Saya rasa, masalah sekecil apapun boleh kita persepsikan sebagai musibah, termasuk itu percintaan!


Akhir-akhir saya ingin mengangkat cerita seorang teman yang kebetulan juga kena 'bencana' dalam hal percintaan. Rasanya tak perlulah saya sebutkan namanya segala. Singkatnya dia itu kena 'tipu' oleh seseorang, pada akhirnya dia mengalami kerugian yang menurut saya bukan jumlah yang kecil untuk kapasitasnya. Itu baru soal materi, belum hati yang terlanjur cinta! Cie cie.... hahaha! Nah, mungkin inti dari malasah ini adalah kekurang hati-hatian plus terlalu bermain hati. Yah, sah-sah saja seseorang memberikan segalanya tak terkecuali hati, syaratnya ijab qabul (baca : pernikahan).

Terlepas dari itu semua, yang lalu biarlah berlalu. Bencana adalah ujian mental untuk kita. Dan ujian akan menaikkan level kita. Bener kan? Mau naik kelas ujian/ulangan dulu, dalam permainan ada level ada tantangan, Pada akhirnya masalah bukanlah suatu hal yang perlu dipusingkan. Masalah sudah mengakrabi kita, dan kita juga memasukkan masalah ke daftar teman dekat kita. Masalah menjadikan kita kuat, tegar seperti batu karang, dan lebih siap. Bahkan ada tipe orang yang suka nya mencari-cari tantangan, suka dengan hal-hal yang beresiko. biasanya orang yang seperti ini cenderung mentalnya lebih kuat.

Badai pasti berlalu, sambutlah mentari yang cerah! Ingatlah kalau musibah itu sebenarnya memberi kita nilai, pelatihan, gemblengan untuk senantiasa mencari jalan keluar. Untuk senantiasa berpikir menggunakan akal kita, karena mau tidak mau kita sudah terlahir sebagai mahluk yang berakal. Iya toh?
Sekian. Semoga bermanfaat

Jika tulisan ini anda rasa bermanfaat, silakan share. Pahala besar untuk anda yang peduli sesama :)
Ada yang lebih menarik disini.....KLIK!!

Friday, 17 January 2014

Ibu Adalah Sosok 'Wakil Tuhan' di Dunia! Tidak Percaya?

Kali ini saya ingin mengajak anda merenung tentang sesosok wanita yang saya sebut 'Wakil Tuhan', tapi mohon jangan diartikan secara harfiah. Dia bukanlah sesuatu yang agung, namun layak untuk dijunjung.


Dia bukanlah sesuatu yang keramat, namun wajib untuk dihormat. Dia bukanlah sesuatu yang niscaya, namun sungguh pantas untuk dimulya. Benar, dia adalah orang yang kita kenal, dia adalah malaikat yang tak bersayap namun terlihat, dia adalah ibu kita. 

Masih ingat tentang "Ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua" ? Saya rasa memang tidak berlebihan kalau saya menyebutnya 'Wakil Tuhan' - ingat, bukan arti yang sebenarnya!

Sejenak flashback ke beberapa bulan yang lalu, waktu itu saya benar-benar terbawa pada suatu emosi kesedihan yang tak tertahankan - mungkin anda pernah mengalaminya. Ditengah-tengah khidmatnya sembahyang malam (baca : tahajjud), saya teringat masa-masa sewaktu remaja yang saat itu memang saya termasuk anak 'badung' melawan orang tua, berbohong demi hobby, suka memaksa, dll. 

Maka seketika air mata saya mengucur deras tak tertahankan mengingat betapa sayang nya orang yang selama ini saya durhakai, betapa perhatiannya beliau saat saya sakit, betapa cemasnya beliau saat saya bepergian.

Terlebih ketika ingat pengorbanannya, cucuran keringatnya, sentuhan lembutnya sewaktu saya kecil, perjuangannya saat melahirkan yang hampir-hampir meregang nyawa. Sangatlah tak pantas kalau saya berani mengatakan "ah" untuk setiap yang diperintahkannya, apalagi sampai membantah, apalagi sampai menyakiti hatinya, apalagi sampai membuatnya menangis. 

 Mengecewakannya dimasa lalu adalah ternyata dosa terbesar saya. Ingatkah anda kalau membantah orang tua termasuk 10 dosa besar? Makin deras air mata keluar saat tersadar apa yang selama ini sudah saya persembahkan. Kalau lah pernah menurut, mungkin dibalik itu ada pamrih. 

Kalau lah pernah mendengarkan, mungkin saat itu sedang butuh sesuatu. Istilahnya 'ada udang dibalik batu', benar-benar hati ini seperti dicambuk. Bagaimana mungkin keikhlasannya mengurus selama bertahun-tahun hanya dibalas dengan sedikit membantu, bahkan pamrih.

Maka deraian air mata yang selanjutnya keluar bersamaan dengan do'a yang terpanjatkan setiap malam. Maka sikap yang selanjutnya dipersembahkan adalah memberikan apapun yang terbaik yang bisa saya lakukan. 

Maka kekuatan pun berlipat seakan ada malaikat yang membantu disetiap aktifitas. Saya betul-betul meyakini bahwa do'a mereka (orang tua) akan sampai ke langit.
Sekian semoga bermanfaat

Sekian dulu ya, semoga bermanfaat. Silakan share ke teman-teman anda :)

Wednesday, 15 January 2014

Seputar Baik Buruknya Kehadiran Sosial Media di Tengah-tengah Keluarga

Selamat sore pemirsa setia blog sepsum. Di sore yang dingin ini, saya ingin sedikit membahas tentang sosial media, baik buruknya di tengah-tengah keluarga. Dengan segala keterbatasan ilmu dan kemampuan menulis, saya mencoba memaparkan apa yang saya lihat dan perhatikan saja.


Hari gini, siapa sih yang nggak kenal facebook, twitter, instagram, dll. Bahkan bayi yang baru brojol aja udah langsung nongol di sosmed, iya nggak? Kan nggak lengkap rasanya moment kelahiran si buah hati kalau tidak di share di sosmed.

Sebetulnya peran sosial media itu sekarang sangat vital. Tau kan, setiap hari ratusan jenis portal berita online berseliweran di sosmed. Ada yang bener, ada yang hoax. Ada yang bermutu, ada yang garing. Kita tentu harus bisa selektif dalam mengkonsumsi atau menyebarkan berita di media sosial.

Untuk dilingkungan keluarga sendiri, memang sah-sah saja kalau setiap individu sibuk dengan sosial media. Asal, betul-betul memanfaatkan sosmed untuk hal yang positif. Seperti, mencari uang dengan berjualan online, mencari informasi seputar resep masakan biar nggak itu-itu aja, dll.

Selain bermanfaat, sosmed juga banyak kemudhorotannya. Bagaimana tidak, seorang anak yang sudah asyik main game online yang terhubung ke sosmed, sampai lupa makan, lupa mandi, bahkan bolos sekolah, iya tho? Kalau sudah begitu, harus gimana?

Kita sebagai orang tua, harus lebih ketat lagi mengawasi anak-anak. Jangan dibiarkan, lebih parah lagi kitanya yang terlena sampai lupa sama anak. Wah, kalau itu sih orang tuanya yang kepriben. hehehe

Tanpa disadari, hal ini jugalah yang menjadi faktor penurun kualitas waktu bersama keluarga. Waktu yang semestinya digunakan untuk bercanda, bermain berama keluarga malah dihabiskan dengan bermain game online. Bukan sekali dua kali, bahkan sering saya temui macam orang tua yang seperti itu.

Saya sempat baca meme yang bunyinya begini "orang tua jaman dulu kalau anak sakit, nyari bawang sama balsem trus dibalurin ke tubuh anak, orang tua jaman sekarang kalau anak sakit, ngambil hape nulis status cepet sembuh ya sayang!"

Coba diperhatikan dan dibandingkan. Walaupun mungkin tujuan meme itu nggak serius-serius amat, tapi sindiran ini memang positif dialamatkan pada mereka yang terlalu melibatkan sosial media dalam segala hal. Nah, kalau saya tanya emangnya penting kalau anak sakit di upload ke sosmed?

Balik lagi ke soal yang tadi, bagaimana sih biar anak nggak terlalu sibuk dengan sosial media?

Anda boleh coba dengan cara :
  • lebih meng-eratkan hubungan dengan anak, dengan memberi perhatian lebih
  • mencontohkan untuk tidak sebelas-dua belas (sama-sama) kecanduan sosmed/game
  • mengarahkan anak pada kegiatan yang lebih bermanfaat serta bersifat real
  • sering-sering mengajak bermain anak keluar rumah untuk refreshing
  • membatasi waktu anak bermain di sosmed
  • tidak dengan mudah memberi fasilitas yang mgarah kesana, seperti gadget, laptop, dll.
  • membuat peraturan sehari tanpa gadget/sosmed
  • dll (boleh anda pikirkan sendiri) hehe
Karena sudah kepanjangan, saya rasa untuk postingan kali ini saya akhiri dulu sampai disini. Silakan share ke teman-teman anda sekiranya bermanfaat. Wassalam :)